Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) menilai capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,1 persen pada kuartal I-2017 membangkitkan optimisme dunia usaha. Sebab itu, momentum pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tersebut harus dijaga.

“PDB awal tahun ini bangkitkan optimisme kita,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia, Minggu (7/5/2017).

Bahlil mengatakan, optimisme tersebut menguat sebab pertumbuhan di atas 5 persen ini justru terjadi kuartal I-2017. Secara siklus, pertumbuhan biasanya baru akan menguat pada kuartal III dan IV.

“Biasanya belanja swasta belum terlihat di kuartal I, bahkan kreditnya pun belum turun atau baru dibelanjakan pada kuartal II dan seterusnya, tapi PDB sudah naik,” ujar dia.

Bahkan realisasi belanja pemerintah baru menguat pada kuartal II. Sebab realisasi atau pencairan anggaran biasanya mengalami banyak kendala pada awal tahun. Namun, PDB awal tahun ini sudah membangkitkan optimisme.

Untuk itu, Hipmi menghimbau agar pelaku usaha berperan serta membantu pemerintah menjaga momentum pertumbuhan tersebut, utamanya pelaku usaha besar.

“Momentum yang ada kita kawal sama-sama. Hitung-hitungan tentu tidak hanya di atas kertas, tetapi juga perlu keberanian kolektif untuk membantu pemerintah bersama korporasi-korporasi besar mengangkat perekonomian,” kata dia.

Meski demikian, Hipmi juga berharap agar pemerintah menjaga belanja negara agar makin meningkat pada kuartal II-2017 meskipun pemerintah tengah melakukan pengetatan atau disiplin anggaran.

“Kalau pihak swasta-swasta berkolaborasi dengan belanja pemerintah mendorong spending yang besar tentu efeknya akan berlipat pada keseluruhan kegiatan ekonomi domestik. Sisi supply perekonomian kita kuat dan demand-nya juga naik,” pungkas dia.

Bahlil mengatakan, pemerintah perlu memperkuat permintaan sehingga dapat mendorong industrilisasi atau peningkatan kapasitas produksi dengan memperlancar serapan anggaran. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah secara tahunan pada belum optimal, baru 2,71 persen (year on year/yoy).

“Serapan anggaran pemerintah akan menjadi stimulus atau insentif yang dapat mempercepat  pergerakan ekonomi di berbagai sisi, juga akan mendorong investasi pihak swasta dan sektor keuangan,” papar dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,01 persen di kuartal I 2017 (year on year). Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, ada beberapa hal yang mendorong pertumbuhan ekonomi di kuarta I 2017 tersebut.

“Harga komoditas nonmigas di pasar internasional di kuartal I secara umum meningkat. Misalnya beras, kedelai, daging, teh dan lainnya. Komoditas tambang bijih besi, aluminium, bijih tembaga juga mengalami kenaikan,” jelas dia di Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Kondisi perekonomian global di periode tersebut juga secara umum terus meningkat. Di luar itu, ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia pada umumnya juga membaik.

Suhariyanto merinci, Tiongkok sedikit menguat dari 6,7 persen jadi 6,9 persen (yoy). Amerika Serikat (AS) juga menguat dari 1,6 persen jadi 1,9 persen. Singapura pun menguat dari 1,9 persen menjadi 2,5 persen (yoy).

Dengan realisasi tersebut, ia berharap pertumbuhan ekonomi terus meningkat ke depannya. “Mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi kita meningkat ke depannya,” kata dia.

Liputan6.com